Bab 3 - Sintesis Dua Tradisi Doa

Meski Doa Yesus awalnya hanya dikenal dan berkembang di wilayah Kekristenan Timur, baik di Gereja Ortodoks maupun di Gereja Katolik Timur, seiring dengan semakin tersebarnya informasi, doa sederhana ini juga mulai dikenal oleh orang-orang Katolik di Kekristenan Barat, baik di kalangan klerus maupun awam.

Salah satu buku yang paling berpengaruh dalam penyebaran Doa Yesus di kalangan orang-orang Katolik adalah buku klasik berjudul, "The Way of A Pilgrim." Kemungkinan besar buku ini adalah sebuah otobiografi yang ditulis pada abad 19 oleh seorang Rusia yang tak dikenal (anonim). Buku ini mengisahkan pengalaman sang penulis yang berkelana menjelajahi Rusia sambil mempraktekkan Doa Yesus. Dalam perjumpaannya dengan bermacam-macam orang, dan dari berbagai kejadian yang dialaminya sepanjang perjalanan, dia belajar banyak tentang makna dan kekuatan dari Doa Yesus. Dalam perjalanan ia juga bergumul dengan berbagai keraguan, kesulitan dan godaan. Namun berkat Doa Yesus yang dipraktekkannya sepanjang jalan, ia menemukan kedamaian dan pencerahan melalui semangat kerendahan hati, penyangkalan diri dan kedekatannya dengan Tuhan.


Dari Doa Yesus Menjadi Meditasi Yesus

Buku "The Way of A Pilgrim" sudah tersebar luas ke seluruh dunia dan dibaca oleh jutaan orang Kristen, termasuk orang-orang Katolik. Pesan sederhana namun kuat dari buku ini tentang karunia dan kuasa rohani dari Doa Yesus, telah memikat begitu banyak orang dan membuat mereka tertarik untuk mempraktekkannya. Ketertarikan ini juga dialami oleh sekelompok orang muda Katolik di Bandung sekitar pertengahan dekade 90-an. Mereka mempraktekkan Doa Yesus ini dalam salah satu kegiatan doa di kelompok mereka.

Sebagai Katolik mereka terbiasa mempraktekkan Doa Rosario, maka praktek Doa Yesus yang dilakukan sedikit atau banyak juga ikut dipengaruhi oleh pola dan kebiasaan yang ada pada kegiatan Doa Rosario. Salah satu contohnya, karena tidak memiliki komboskini maka mereka mempraktekkan Doa Yesus dengan alat bantu untaian rosario. 

Masalahnya, untaian rosario memiliki bentuk dasar yang berbeda dengan komboskini yang biasa digunakan dalam Doa Yesus. Komboskini umumnya digunakan untuk mendaraskan sebuah doa secara berulang-ulang sedangkan untaian rosario digunakan untuk mendaraskan setidaknya dua macam doa, satu kali Bapa Kami dan 10 kali Salam Maria, secara berulang-ulang. Akibatnya, penggunaan untaian rosario ini juga memunculkan gagasan baru, yaitu kebutuhan untuk menambahkan doa lain sebagai pelengkap dari rumusan Doa Yesus yang sudah ada.

Beberapa macam doa sempat dicoba sampai akhirnya ditemukan sebuah doa tambahan yang sangat cocok untuk ditambahkan pada Doa Yesus. Selanjutnya bentuk doa yang dipraktekkan menjadi seperti ini:

Pada butir "Salam Maria" sebanyak 10 kali:
"Tuhan Yesus Kristus Putra Allah, kasihanilah aku orang berdosa"

Pada butir "Bapa Kami":
"Tuhan Yesus Kristus, aku mengasihi Engkau"

Doa baru yang ditambahkan ini mengambil inspirasi dari jawaban Petrus ketika Tuhan bertanya hingga tiga kali berturut-turut, "Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" (Yoh.21:15-17)

Pada awalnya, dalam kegiatan doa kelompok bentuk doa yang baru ini masih sangat fleksibel, jumlah pengulangan doanya tidak dibatasi, boleh berapa saja. Kadang didoakan satu kali putaran rosario, kadang dua kali atau lebih, sesuai kesepakatan bersama. Bentuk doa yang fleksibel ini sempat bertahan selama beberapa tahun lamanya. Pada waktu itu, doa tersebut diberi nama 'Meditasi Yesus' untuk membedakannya dengan Doa Yesus yang asli. Buku tentang Meditasi Yesus ini sudah pernah ditulis beberapa tahun lalu dengan judul: "Meditasi Yesus: Doa Batin Transformatif Yang Berakar Pada Dua Tradisi Gereja", kata pengantar oleh Rm. Istimoer Bayu, dan diterbitkan oleh penerbit "Kanisius".


Munculnya Doa Mazmur Yesus

Akhirnya, sekitar tahun 2017 timbul dorongan kuat untuk semakin mendekatkan bentuk doa ini pada Doa Rosario. Caranya adalah dengan menambahkan renungan Injil seperti yang ada pada Doa Rosario. Hanya saja rangkaian renungan Injil yang dipilih adalah renungan kisah sengsara Tuhan. Rangkaian renungan ini hampir sama seperti renungan pada perhentian Jalan Salib, yaitu mulai dari Tuhan Yesus berdoa di Taman Getsemani sampai dengan Tuhan Yesus dimakamkan. Dengan penambahan renungan kisah sengsara ini maka bentuk doa menjadi baku dan tidak lagi fleksibel seperti sebelumnya. Polanya juga sudah sangat mirip dengan Doa Rosario, yaitu 150 kali Doa Yesus yang dibagi menjadi 15 dekade dan masing-masing dekade didahului dengan renungan kisah sengsara Tuhan.

Seperti yang sudah disampaikan pada bab atau video sebelumnya, selama kurang-lebih dua abad lamanya doa yang diajarkan Bunda Maria kepada St. Dominikus dikenal sebagai Doa Mazmur Maria. Bahkan, dalam dokumen resmi "Consueverunt Romani Pontifices" Paus St. Pius V mencantumkan Doa Mazmur Maria sebagai nama lain dari doa Rosario:

Berikut kutipannya:

Maka Dominikus melihat pada cara sederhana untuk berdoa dan memohon kepada Tuhan, yang dapat diakses oleh semua orang dan sepenuhnya saleh, yang disebut Rosario atau Mazmur Perawan Maria yang Terberkati....

Penggunaan nama Mazmur Maria ini berkaitan dengan jumlah 150 pengulangan Doa Salam Maria sesuai jumlah Mazmur Daud, yang menjadi bentuk dasar dari doa tersebut. Berdasarkan fakta ini maka doa baru yang juga mengikuti pola Doa Rosario atau Doa Mazmur Maria dengan 150 kali pengulangan Doa Yesus, mendapatkan sebuah nama baru yang mirip yaitu Doa Mazmur Yesus.

Sebagaimana Hati Tak Bernoda Bunda Maria berpasangan dengan Hati Kudus Yesus, demikian juga dalam iman dapat kita katakan Doa Mazmur Yesus adalah pasangan yang serasi bagi Doa Rosario atau Doa Mazmur Maria. Selain itu, dalam konteks senjata rohani kehadiran Doa Mazmur Yesus sebagai pendamping Doa Rosario juga sangat tepat. Sesuai nubuat Kitab Suci (Kej.3:15), permusuhan yang ditetapkan Tuhan adalah antara perempuan melawan ular dan antara keturunan perempuan melawan keturunan ular. Maka secara simbolik senjata rohani yang dibutuhkan dalam pertempuran juga ada dua. Yang pertama, senjata rohani yang berasal dari perempuan (Bunda Maria), yaitu Doa Rosario yang dipenuhi dengan doa Salam Maria. Dan kedua, senjata rohani yang berasal dari keturunan perempuan (Tuhan Yesus), yaitu Doa Mazmur Yesus yang dipenuhi dengan doa dalam Nama Yesus atau Doa Yesus.

Dalam hubungannya dengan Doa Yesus, melalui penambahan sebuah doa baru dan renungan kisah sengsara, Doa Mazmur Yesus telah mengangkat Doa Yesus yang sudah dikenal selama berabad-abad sebelumnya menjadi sebuah doa baru yang lebih lengkap dan berbeda. Penambahan yang membawa perubahan signifikan ini hampir sama kasusnya seperti doa yang diajarkan Bunda Maria kepada St. Dominikus. Penambahan 15 renungan Injil yang diminta oleh Bunda Maria terbukti telah melengkapi atau menyempurnakan Doa Mazmur Maria yang sudah dipraktekkan sebelumnya oleh biarawan-biarawan Sistersian. Begitu juga dapat kita katakan penambahan renungan kisah sengsara Tuhan dan penambahan doa baru dalam Doa Mazmur Yesus, telah melengkapi serta menyempurnakan Doa Yesus klasik yang sudah dikenal sebelumnya.

Selama berabad-abad, Doa Yesus yang sudah mulai dikenal sejak abad ke tiga tidak banyak berubah selain perubahan kecil dari rumusan doanya, variasi jumlah pengulangan, atau penerapan teknik hesychasme yang menekankan keheningan dalam prakteknya. Namun setelah mengalami perjumpaan dengan Doa Rosario yang berasal dari tradisi Kristen Barat, doa sederhana ini sekarang mendapatkan perubahan yang sangat signifikan dalam bentuk Doa Mazmur Yesus.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Doa Mazmur Yesus adalah doa sederhana yang muncul dari sintesis atau perpaduan dua tradisi doa Kristen, yaitu Doa Yesus dari Kristen Timur dan Doa Rosario dari Kristen Barat. Sintesis yang prosesnya berlangsung selama lebih dari 20 tahun ini pada akhirnya menghasilkan sebuah doa yang sama sekali baru. Sebuah doa dengan karakteristik dan keutamaan rohani yang berbeda dari Doa Yesus yang menjadi dasarnya. Selain itu, adanya renungan misteri sengsara Kristus dalam Doa Mazmur Yesus juga menempatkannya sebagai pendamping yang harmonis dari Doa Rosario atau Doa Mazmur Maria.