Tuhan hanya mendirikan satu Gereja-Nya, sekali untuk selamanya. Di awal abad kedua, Santo Ignatius dari Antiokia adalah orang yang pertama kali menyebut satu-satunya Gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus sebagai "Gereja Katolik". Dan selama berabad-abad lamanya, seperti yang dikehendaki Tuhan, memang hanya ada satu Gereja Katolik di seluruh dunia. Tidak ada gereja yang lain.
Namun karena faktor geografis dan budaya, Gereja Katolik yang satu itu sejak awal perkembangannya terbagi menjadi dua: Gereja Katolik Timur yang terdiri dari empat patriarkat (yaitu Konstantinopel, Aleksandria, Antiokhia, Yerusalem) dan Gereja Katolik Barat yang diwakili oleh Gereja Roma. Meski memiliki substansi iman yang sama, keduanya melahirkan tradisi liturgi dan devosi yang berbeda. Dalam tradisi doa, di Gereja Timur berkembang doa batin yang dikenal dengan nama Doa Yesus, sementara di Gereja Barat berkembang doa devosi yang dikenal sebagai Doa Rosario.
Doa Yesus Dari Tradisi Kristen Timur
Doa Yesus adalah doa singkat yang diucapkan secara berulang-ulang di dalam hati. Rumusan yang sekarang umum digunakan adalah, "Tuhan Yesus Kristus Putra Allah, kasihanilah aku orang berdosa". Rumusan ini didasarkan pada doa yang diajarkan Tuhan Yesus dalam perumpamaan tentang doa pemungut cukai (Luk.18:8-14), dan sekaligus juga dari seruan orang buta di dekat Yerikho (Luk.18:38). Biasanya Doa Yesus ini didaraskan dengan bantuan tali doa atau komboskini untuk menghitung banyaknya jumlah pengulangan doa.
Tidak ada catatan resmi tentang siapa yang memulai tradisi doa ini. Tapi diperkirakan doa ini sudah mulai dikenal di masa bapa-bapa padang gurun, yang mulai bermunculan di daerah Mesir dan Palestina sekitar abad ke tiga atau ke empat. Rumusan doa yang digunakan pada masa itu juga masih sederhana, misalnya "Tuhan Yesus, kasihanilah aku..," "Kyrie Eleison..," dan sebagainya. Doa singkat yang diulang-ulang ini digunakan oleh para pertapa padang gurun yang umumnya buta huruf, untuk mengisi hari-hari pertapaan mereka dengan menaati nasehat Rasul Paulus, "...berdoalah setiap waktu.." (Ef.6:18).
Dengan mengulang-ulang doa singkat tersebut sebanyak ratusan bahkan ribuan kali sehari, para pertapa yang sederhana itu menjadikan Nama Yesus yang penuh kuasa sebagai sumber kekuatan dan inspirasi hidup mereka. Pengalaman dan kuasa rohani dari doa sederhana yang dialami para pertapa ini kemudian menarik banyak orang Kristen lain untuk ikut mempraktekkan doa sederhana ini.
Tradisi doa ini kemudian berkembang pesat di wilayah Kekaisaran Bizantium, yang dipopulerkan oleh biarawan-biarawan dari Gunung Athos (Yunani) sekitar abad ke delapan. Selanjutnya doa sederhana ini tersebar luas, dan menjadi doa kesayangan umat di wilayah Kekristenan Timur sampai sekarang.
Rumusan doanya juga berkembang secara bertahap hingga akhirnya menjadi rumusan doa yang kini umum dikenal, yaitu "Tuhan Yesus Kristus Putra Allah, kasihanilah aku orang berdosa." Biasanya doa singkat ini didaraskan sebanyak 100 kali, 300 kali, 1000 kali atau bahkan lebih. Untuk menghitung jumlah pengulangan doa biasanya digunakan tali doa / komboskini yang menurut tradisi sudah mulai dikenal sejak jaman St. Antonius Agung yang hidup di abad 3 sampai abad 4.
Bahkan menurut legenda, simpul komboskini yang khas pertama kali diajarkan langsung oleh Bunda Maria yang menampakkan diri pada Santo Antonius melalui mimpi. Saat itu St. Antonius mengalami kesulitan untuk membuat tali doa, karena setiap kali dia tidur simpul tali yang sudah dibuatnya selalu diurai kembali oleh iblis. Setelah St. Antonius membuat tali doa dengan simpul yang diajarkan kepadanya oleh Bunda Maria, iblis tidak dapat lagi menguraikannya karena setiap simpul yang diajarkan Bunda Maria terbentuk dari 7 buah salib. Sementara sumber lain mengatakan simpul tersebut diajarkan oleh Malaikat Agung St. Gabriel kepada St. Pachomius Agung melalui mimpi dengan kisah yang hampir mirip. Selanjutnya, penggunaan komboskini sebagai alat bantu dalam mendaraskan doa-doa singkat seperti Doa Yesus dipopulerkan oleh St. Pachomius yang hidup di abad 4, satu jaman dengan St. Antonius Agung. Legenda mana yang betul tidak terlalu penting, yang jelas simpul yang persis sama sampai hari ini masih digunakan untuk membuat komboskini.
Sementara itu, keampuhan Doa Yesus yang sederhana juga telah dibuktikan pada sekitar abad 10 dalam peristiwa berpindahnya Bukit Mokattam di Mesir. Ketika itu orang-orang Kristen Mesir mendapatkan ancaman untuk dibunuh atau diusir oleh Khalifah Al Muiz jika tidak dapat membuktikan kebenaran Injil tentang iman yang dapat memindahkan gunung. Di bawah pimpinan Patriarkh Abraham, orang-orang Kristen Mesir kemudian berdoa "Kyrie Eleison" berulang-ulang sebanyak 400 kali. Secara ajaib, Bukit Mokattam terangkat dan berpindah beberapa kilometer di depan mata banyak orang. Akibat mujizat yang luar biasa tersebut, orang-orang Kristen di Mesir selamat dari ancaman pembantaian dan pengusiran, sementara Khalifah Al Muiz bertobat menjadi Kristen.
Doa Rosario, Doa Kesayangan Gereja Barat
Jika Gereja Timur memiliki Doa Yesus sebagai doa kesayangan, maka Gereja Barat punya Doa Rosario sebagai doa favorit. Doa Rosario berakar pada kebiasaan umat Katolik awam di sekitar abad 11 yang mencoba meniru kebiasaan para biarawan dalam mendaraskan Kitab Mazmur setiap pagi. Karena umat awam pada masa itu umumnya buta huruf, mereka menggantikan bacaan dalam Kitab Mazmur dengan berdoa Bapa Kami berulang-ulang sebanyak 150 kali, sesuai jumlah Mazmur. Bentuk doa ini kemudian dikenal sebagai Paternoster. Kebiasaan yang mulai berkembang luas di kalangan awam tersebut, kemudian diadaptasi oleh biarawan Sistersian yang menggantikan Doa Bapa Kami dengan Doa Salam Maria. Mereka menyebut bentuk doa yang terdiri dari 150 kali Salam Maria ini sebagai "Mazmur Maria."
Momen terpenting bagi perkembangan doa ini muncul di abad 13. Pada waktu itu St. Dominikus yang sedang berdoa selama berhari-hari dalam perjuangannya melawan bidat albigensis, mendapatkan penampakan dari Bunda Maria. Pada penampakannya, Bunda Maria meminta St. Dominikus untuk "mengkhotbahkan Mazmurnya" dalam berupaya mempertobatkan para bidat albigensis.
Sesuai permintaan dan petunjuk Bunda Maria, St. Dominikus menambahkan 15 misteri kehidupan Yesus Kristus ke dalam Doa Mazmur Maria yang sudah dikenal sebelumnya. Selanjutnya, ia mengajarkan "Doa Mazmur Maria baru" yang diajarkan Bunda Maria ini kepada banyak orang. Dengan pertolongan doa tersebut St. Dominikus berhasil mempertobatkan banyak kaum albigensis, bahkan termasuk mengalahkan mereka dalam peperangan fisik.
Sampai dengan awal abad 15, doa yang diajarkan Bunda Maria kepada Santo Dominikus ini tetap dikenal sebagai Doa Mazmur Maria. Barulah di abad 15 doa ini mulai disebut sebagai Doa Rosario untuk mengungkapkan bagaimana rangkaian doa-doa dalam "Doa Mazmur Maria" adalah untaian mawar indah yang dipersembahkan kepada Bunda Maria. Inilah cikal bakal dari Doa Rosario yang sekarang kita kenal.
Pada tahun 1569, Paus St. Pius V melalui dokumen "Consueverunt Romani Pontifices" secara resmi menyetujui Doa Rosario dalam bentuk 15 misteri kehidupan Tuhan, dan 15 dekade Doa Salam Maria yang masing-masing didahului Doa Bapa Kami serta diakhiri Doa Kemuliaan.
Tidak lama kemudian, pada tahun 1571 Doa Rosario ini menunjukkan keampuhannya sebagai senjata rohani dalam perang laut Lepanto. Pada masa itu Eropa sedang berada di titik terlemah karena perpecahan dan perseteruan diantara kerajaan-kerajaan di benua tersebut, yang ditimbulkan oleh gerakan reformasi Martin Luther. Kelemahan ini segera dilihat oleh Kekalifahan Islam Turki sebagai kesempatan baik untuk menyerang dan menguasai Eropa. Menghadapi ancaman tersebut, Paus St. Pius V dengan susah payah mengumpulkan sisa-sisa kekuatan armada kerajaan-kerajaan Katolik Eropa yang ada. Kemudian mereka bergabung di dalam Armada Liga Suci di bawah pimpinan Raja Don Juan dari Austria.
Melihat kekuatan Armada Liga Suci yang terbatas dan tidak sebanding dengan kekuatan armada Kekalifahan Islam Turki, yang saat itu menjadi kekuatan laut terkuat di dunia, Paus St. Pius V menyerahkan armada Liga Suci dalam perlindungan Bunda Maria melalui Doa Rosario. Sementara itu, Raja Don Juan dan seluruh pasukan Kristen yang tergabung dalam armada Liga Suci juga mengandalkan kekuatan Doa Rosario dengan mendoakannya sepanjang perjalanan sebelum pertempuran laut terjadi.
Pada tanggal 7 Oktober 1571, pecahlah perang laut yang hebat antara Armada Liga Suci dan armada Kekalifahan Islam Turki. Kondisi angin yang sebelum pertempuran sangat menguntungkan armada Kekalifahan Islam Turki, tiba-tiba berbalik arah di saat yang tidak terduga dan memberi keuntungan strategis bagi Armada Liga Suci. Akibatnya, armada Liga Suci di bawah pimpinan Raja Don Juan berhasil memenangkan pertempuran laut yang bersejarah itu melawan musuh yang jauh lebih kuat. Tepat di hari pertempuran terjadi, Paus St. Pius V yang ikut mendukung perjuangan Armada Liga Suci melalui Doa Rosario, sudah mengetahui kemenangan itu sebelum armada tersebut kembali dari medan pertempuran. Perang laut Lepanto tercatat sebagai peperangan laut paling menentukan dalam sejarah maritim, karena sejak kekalahannya dalam perang tersebut armada Kekhalifahan Islam Turki tidak pernah lagi menjadi ancaman serius bagi Eropa dan Kekristenan.
Kedua bentuk doa ini, yaitu Doa Yesus di Gereja Timur dan Doa Rosario di Gereja Barat, adalah dua bentuk doa sederhana tapi sekaligus luar biasa yang muncul dari sejarah panjang tradisi umat beriman masing-masing. Kedua doa kesayangan tersebut, telah terbukti menjadi sumber kekuatan rohani untuk membangun fondasi iman Kristen yang kuat, menjadi senjata rohani untuk melawan kekuatan-kekuatan jahat, dan sekaligus sarana rohani untuk membangun relasi yang akrab dengan Tuhan sebagai sumber kekuatan dan inspirasi hidup setiap orang Kristen.


0 Komentar