Salah satu keunikan dari Doa Mazmur Yesus adalah potensinya untuk berkontribusi pada upaya persatuan Kristen. Ini sangat penting karena perpecahan adalah masalah yang terbesar bagi kekristenan di seluruh dunia saat ini. Mustahil ada perdamaian dunia kalau Kekristenan yang menjadi fondasi bagi perdamaian sejati, justru terpecah-belah begitu parah. Tak akan pernah ada perdamaian dunia, tanpa persatuan Kristen.
Salah satu alasan mengapa Doa Mazmur Yesus berpotensi untuk ikut membangun persatuan Kristen adalah karena doa sederhana ini pada dasarnya dapat diikuti oleh semua Kristen, apapun golongannya. Selain itu, Doa Mazmur Yesus juga terbentuk dari perpaduan tradisi doa dua kekristenan yang berbeda, maka doa sederhana ini juga dapat menjadi simbol persatuan dan sekaligus sarana yang efektif untuk membangun semangat persatuan dari kekristenan yang saat ini sedang terpecah-belah.
Doa Mazmur Yesus Bagi Katolik
Bagi orang-orang Katolik, selain doa ini memiliki pola yang mirip dengan Doa Rosario yang sudah mereka kenal, doa sederhana ini tumbuh pertama kali di kelompok orang muda Katolik. Selain itu Doa Mazmur Yesus juga sepenuhnya berasal dari warisan rohani Gereja Katolik meski dari dua tradisi yang berbeda. Jadi tidak ada hambatan apapun untuk mempraktekkannya.
Yang harus dicatat, sekalipun sekilas terkesan Doa Mazmur Yesus merupakan perpaduan antara tradisi doa Katolik dan Ortodoks, sesungguhnya doa ini jauh dari semangat sinkretisme atau ekumenisme kompromistis yang keliru. Doa Yesus yang menjadi cikal bakal dari Doa Mazmur Yesus memang banyak dipraktekkan oleh orang-orang Ortodoks, tetapi doa tersebut sebenarnya sudah ada sejak abad ke tiga, dimana pada saat itu hanya ada satu Gereja di seluruh dunia, yaitu Gereja Katolik. Dengan demikian Doa Yesus sebenarnya juga merupakan warisan rohani dari Gereja Katolik. Oleh karenanya dapat dikatakan Doa Mazmur Yesus yang merupakan sintesa dari Doa Rosario dan Doa Yesus, sepenuhnya berasal dari tradisi doa-doa Katolik tanpa terkontaminasi unsur-unsur luar.
Doa Mazmur Yesus Bagi Ortodoks
Bagi orang-orang Ortodoks, Doa Mazmur Yesus sangat mirip dengan Doa Yesus yang sudah mereka kenal akrab selama berabad-abad, sehingga mereka akan dengan mudah dapat menerima dan mempraktekkannya. Selain itu Doa Yesus dalam bentuk sederhana sudah dikenal sejak abad ketiga, jauh sebelum Gereja Ortodoks muncul di abad 11. Dengan kata lain Doa Yesus ini muncul dari tradisi Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Tapi tragedi perpecahan antara Gereja Timur dan Barat telah menimbulkan kesan keliru seolah-olah Doa Yesus ini adalah tradisi Gereja Ortodoks yang sama sekali terpisah dari tradisi Gereja Katolik. Maka melalui Doa Mazmur Yesus yang merupakan pengembangan dari Doa Yesus dan sekaligus hasil sintesis dengan Doa Rosario, terbukalah kesempatan untuk mempersatukan kembali orang-orang Ortodoks dengan saudara-saudara Katolik mereka yang sempat terpisah selama berabad-abad lamanya.
Doa Mazmur Yesus Bagi Protestan
Bagi orang-orang Protestan, Doa Yesus, Doa Rosario, Doa Mazmur Yesus atau doa-doa repetitif lainnya memang masih asing. Mereka tidak mengenal tradisi doa jenis itu. Bahkan sebagian orang Protestan sengaja menolak bentuk doa repetitif semacam itu karena dalam asumsi keliru mereka, Injil melarang doa yang diucapkan berulang-ulang. Biasanya penolakan ini merujuk pada penafsiran yang salah terhadap ayat Injil Mat.6:7 tentang larangan doa yang bertele-tele.
Sebenarnya keberatan semacam ini tidak perlu terjadi sekiranya mereka menyadari bahwa doa yang berulang-ulang tidak sama dengan doa yang bertele-tele. Bahkan Tuhan Yesus sendiri juga mengucapkan doa yang berulang-ulang seperti yang dilakukan-Nya di Taman Getsemani (Mrk.14:39, Mat.24:44). Dengan demikian Injil tidak mungkin melarang bentuk doa yang berulang-ulang.
Begitu pula dua doa utama dari Doa Mazmur Yesus sepenuhnya berdasarkan pada ayat-ayat Injil. Doa "Tuhan Yesus Kristus Putra Allah, kasihanilah aku orang berdosa" merujuk pada perumpamaan doa pemungut cukai (Luk. 18:13) dan juga seruan orang buta (Luk. 18:38). Sementara doa, "Tuhan Yesus Kristus, aku mengasihi Engkau" diambil dari jawaban Petrus atas pertanyaan Tuhan sebanyak tiga kali berturut-turut (Yoh.21:15-17). Dasar alkitabiah yang seringkali menjadi pertimbangan mereka sudah terpenuhi. Dengan demikian sebenarnya tidak ada halangan yang berarti bagi orang-orang Protestan untuk mempelajari dan mempraktekkan doa ini.
Doa Yang Membawa Persatuan
Salah satu ungkapan bahasa latin terkenal, lex orandi lex credendi yang kurang lebih berarti "cara kita berdoa menunjukkan iman kita" memperlihatkan keterkaitan yang sangat erat antara cara berdoa dan iman yang diungkapkan. Kalimat yang berasal dari St. Prosper dari Aquitaine (salah seorang murid dari St. Agustinus dari Hippo) ini seringkali digunakan untuk menunjukkan bagaimana iman para Rasul yang sama terungkap dalam substansi liturgi Misa yang sama dari jaman ke jaman.
Tapi ungkapan tersebut juga dapat bermakna sebaliknya, yaitu penggunaan doa yang sama dapat membawa orang pada pemahaman iman yang sama. Dalam konteks inilah Doa Mazmur Yesus yang dapat dipraktekkan semua golongan Kristen, dapat menjadi sarana untuk membangun semangat persatuan Kristen. Bukan hanya sekedar semangat bersatu dalam perbedaan sebagaimana yang dimaksudkan dalam gerakan ekumenisme, tapi terbuka untuk dipersatukan juga dalam iman yang satu dan sama sebagaimana yang dikehendaki oleh Tuhan.
Kalau kita bicara tentang upaya persatuan Kristen, umumnya yang terpikir adalah gerakan ekumenisme dimana semua kelompok Kristen berkumpul dan berdialog dalam kedudukan yang setara untuk membangun persatuan di tengah semua perbedaan yang tidak bisa disatukan. Persatuan seperti itu hanya akan menghasilkan persatuan Kristen yang ekumenis di luar Gereja Kristus. Ini persatuan Kristen yang semu dan bertentangan dengan kehendak Tuhan.
Tuhan hanya mendirikan Gereja-Nya satu kali untuk selamanya. Dan Gereja-Nya ditandai dengan ciri iman yang SATU dan SAMA di bawah pimpinan Petrus yang menjadi wakil-Nya. Maka persatuan Kristen yang dikehendaki-Nya adalah kembalinya semua Kristen yang terpisah untuk masuk ke dalam Gereja-Nya dengan meninggalkan semua hal yang sebelumnya telah memisahkan mereka. Masalahnya, selama berabad-abad upaya persatuan seperti ini yang dilakukan pada level institusi belum juga berhasil.
Tapi bukan berarti persatuan seperti itu tidak akan terwujud sehingga kita semua terpaksa mengupayakan persatuan lewat jalan ekumenisme seperti yang dilakukan secara salah oleh Konsili Vatikan II.
Ada harapan persatuan yang dikehendaki Tuhan ini bisa diwujudkan, tapi bukan dimulai pada level institusi sebagaimana yang sudah terbukti gagal selama berabad-abad. Kita harus berani mencoba cara lain yaitu dengan membangun semangat persatuan itu pada tingkat akar rumput. Caranya adalah, mulai dari membangun semangat persatuan itu diantara umat Kristen semua golongan. Kita semua bisa berpartisipasi untuk membangunnya melalui doa, salah satunya melalui Doa Mazmur Yesus yang dapat dipraktekkan oleh semua Kristen baik dalam komunitas maupun secara pribadi.
Lex orandi lex credendi, semoga dengan melalui satu doa yang sama semua Kristen pada akhirnya akan bersatu dalam iman yang sama, yaitu iman para Rasul. Jika semangat persatuan sudah terbangun di tingkat akar rumput, maka persatuan pada level institusi akan menjadi konsekuensi logisnya.
Kita berharap doa sederhana yang merupakan hasil sintesis dari doa-doa dua tradisi kekristenan yang berbeda ini tidak hanya ikut menambah kekayaan harta rohani yang dimiliki oleh kekristenan, tapi juga ikut berperan dalam membangun semangat persatuan Kristen sebagaimana yang dikehendaki Tuhan: ut omnes unum sint ("...semoga mereka semua menjadi satu...," Yoh.17:21).
0 Komentar